*Peristiwa

Pendeta Gelandangan Is Coming Back! Dari Kolong Jembatan hingga Makam Njarak, Bawa Kabar Keselamatan

682
×

Pendeta Gelandangan Is Coming Back! Dari Kolong Jembatan hingga Makam Njarak, Bawa Kabar Keselamatan

Sebarkan artikel ini

Surabaya — liputan7terkini– Kondisi perekonomian yang semakin sulit membuat masih banyak kaum marginal yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Kondisi tersebut mengetuk hati seorang rohaniawan, Pendeta Risky Eka M, S.Th., yang akrab disapa “Pendeta Gelandangan” karena kegemarannya blusukan ke berbagai tempat, mulai dari kolong jembatan, jalanan hingga makam, untuk menemui dan menyapa kaum marginal.

Bagi Pendeta Risky, turun langsung menemui mereka bukan sekadar kegiatan sosial. Ia ingin mengajak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan untuk kembali mendekatkan diri kepada Kristus sebagai Sang Juru Selamat.

Menurut Pendeta Risky, kegiatan tersebut telah dilakukannya sejak 2006. Kala itu, ia masih mendampingi mentor rohaninya, almarhum Pendeta Jeffry Michael Pesik, melalui Yayasan COM (Cinta Orang Miskin).

Kini, Pendeta Risky menggembalakan Gereja GKKI Gideon Generation Surabaya yang berada di kawasan Klampis, Surabaya. Semangat untuk menjangkau kaum marginal tetap dilanjutkan melalui berbagai kegiatan pelayanan dan aksi diakonia.

Saat ditemui di sela kegiatan di Makam Njarak, Kamis (20/8/2026), Pendeta Risky menuturkan bahwa kegiatan diakonia bagi kaum lansia rutin dilakukan setiap bulan. Sasaran utamanya adalah para lansia yang hidup sebatang kara dan tinggal di sekitar kawasan Makam Njarak, Surabaya.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya untuk memberikan perhatian kepada mereka yang kerap luput dari perhatian masyarakat.

“Giat seperti ini bukan hanya dilakukan di Makam Njarak. Kami juga menyasar kawasan Pasar Keputran, lapas, serta rutan yang ada di Jawa Timur,” ujar Pendeta Risky.

Ia menegaskan, pelayanan tersebut bertujuan membawa berita keselamatan dan pengharapan bagi orang-orang yang sedang berada dalam kesesakan.

Bagi Pendeta Risky, keterbatasan ekonomi bukan alasan bagi seseorang untuk kehilangan perhatian, kasih, dan harapan. Karena itu, ia memilih terus turun langsung ke tengah masyarakat, menyapa mereka yang berada di pinggiran kehidupan.

“Tujuannya adalah membawa berita keselamatan bagi orang-orang yang dalam kesesakan, seperti yang Yesus ajarkan,” tuturnya.

Langkah Pendeta Risky menyusuri jalanan, kolong jembatan, pasar hingga kawasan makam menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam melayani kaum marginal. Semangat tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat hadir melalui kehadiran dan perhatian secara langsung. (Miskawi)