*NasionalPendidikan

Menilik Peran Psikologi Di Berbagai Bidang, AP2TPI Jatim Dorong Penguatan Kompetensi Psikolog Umum

787
×

Menilik Peran Psikologi Di Berbagai Bidang, AP2TPI Jatim Dorong Penguatan Kompetensi Psikolog Umum

Sebarkan artikel ini

SURABAYA —Lipytan7terkini– Peran psikolog ternyata tak sebatas menangani persoalan kesehatan mental. Di lapangan, psikolog dibutuhkan dalam berbagai sektor, mulai dari puskesmas, sekolah, dunia kerja, hingga lingkungan militer.

Hal itu mengemuka dalam Talk Show “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” yang digelar Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Psikologi Jawa Timur (Forkom Jatim)-AP2TPI Wilayah Jawa Timur bersama Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya dan HIMPSI, Minggu (20/9/2026)

Kegiatan yang digelar di Ruang R. Soeparman Hadipranoto Lantai 9 UNTAG Surabaya tersebut diikuti sekitar 170 peserta dari berbagai kalangan.

Koordinator Forkom Jatim (AP2TPI Wilayah Jawa Timur) sekaligus Ketua Panitia serta Dekan Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya, Dr. Diah Sofiah, M.Si., Psikolog, mengatakan forum tersebut menjadi ruang dialog antara akademisi dan praktisi untuk membahas perkembangan pendidikan tinggi psikologi sekaligus kebutuhan masyarakat.
“Melibatkan akademisi, praktisi, dan masyarakat diharapkan dapat memperkaya pengetahuan sekaligus melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan tinggi psikologi Indonesia,” kata Diah.

Psikolog umum bisa berkiprah di puskesmas
Ketua Pusat HIMPSI, Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog, menyoroti semakin luasnya ruang kontribusi psikolog umum.
Ia menyebut layanan primer dapat dilakukan oleh psikolog umum di puskesmas. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa psikolog umum memiliki ruang kontribusi dalam menjawab kebutuhan kesehatan psikologis masyarakat.

Andik juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem pendidikan dan profesi psikologi yang mengacu pada UU Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi.

“Berbagai lembaga perlu memahami bahwa saat ini sedang berlangsung penataan pendidikan tinggi psikologi dan profesi psikologi,” ujarnya.
Menurut Andik, penataan tersebut penting untuk memperkuat kualitas pendidikan, kompetensi lulusan, serta layanan psikologi sesuai kebutuhan masyarakat.

Dari kasus kekerasan seksual hingga persoalan keluarga
Psikolog di Puskesmas Batu, Sayekti Pribadiningtyas, S.Psi., M.Pd., Psikolog, mengungkap beragam kasus yang membutuhkan layanan psikologi di masyarakat.

Mulai dari kasus pencabulan, pemerkosaan, pelecehan seksual, persoalan keluarga hingga masalah pendidikan.

Nining (panggilan Sayekti), menilai psikolog umum memiliki kompetensi untuk memberikan pelayanan kepada klien. Karena itu, keterampilan konseling perlu diperkuat dalam pendidikan profesi Psikolog Umum.

Menurut Sayekti, layanan psikologi di puskesmas juga datang dari berbagai jalur. Selain kunjungan langsung, terdapat rujukan dari dokter, bidan, sekolah, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, hingga UPTPPA.
Ia juga menekankan pentingnya tempat magang mahasiswa selama menempuh program profesi. Sebab, pengalaman praktik turut menentukan kompetensi yang diperoleh mahasiswa untuk menjadi seorang Psikolog Umum.

Psikolog TNI AL bekerja sejak rekrutmen hingga pensiun
Sementara itu, Kolonel Laut (P) Supriyanto, M.Psi., Psikolog., M.Tr. Opsla, Sekretaris Dinas Psikologi Angkatan Laut, membeberkan luasnya peran psikolog di lingkungan militer.

Psikologi menurutnya, terlibat dalam seluruh siklus pengelolaan personel TNI AL. Mulai dari pengadaan, pendidikan, penggunaan, perawatan hingga pemisahan personel. Psikolog juga berperan dalam menentukan kesesuaian penempatan personel untuk bidang khusus seperti penyelam, penerbang, kapal atas air hingga kapal bawah air. Tak hanya itu, psikolog juga menangani aspek klinis, stres, depresi hingga persiapan personel menghadapi masa pensiun. “Inilah peran dari Psikolog Umum yang bisa berkiprah di semua siklus,” imbuhnya.

Guru Besar Bidang Psikologi Sosial Universitas Airlangga, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, mengatakan kompetensi psikolog harus dibangun secara berkesinambungan.
Mulai dari pendidikan S1 hingga profesi.

Menurutnya, praktisi psikologi harus siap menghadapi berbagai kasus yang tidak selalu dapat dipilih. Karena itu, pembekalan kompetensi harus diberikan sejak pendidikan.

Suryanto juga menilai perlu ada batasan yang jelas pada setiap ranah psikologi agar kompetensi dan kewenangan dapat diterapkan secara tepat.

Ia menyebut sejumlah dasar keilmuan yang harus menjadi fondasi mahasiswa psikologi, seperti psikologi perkembangan, sosial, belajar, kepribadian dan psikometrika.

“Variasi kasus dalam profesi juga penting untuk menambah keberagaman pemahaman dan pengetahuan,” katanya.
Psikolog dibutuhkan di sekolah
Praktisi pendidikan, Ida Ayu Putri Widiarini, M.Psi., Psikolog, menilai psikolog umum memiliki potensi besar untuk berkiprah di dunia pendidikan.

Menurut Ayu, psikolog memiliki pengetahuan luas, fleksibilitas dan kreativitas yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai layanan.
Di antaranya asesmen anak dan remaja, psikoedukasi serta layanan minat dan karier bagi siswa.

Namun, ia melihat masih terdapat kebingungan mengenai peran psikolog dengan lulusan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah.
“Sistem rujukan dengan puskesmas juga perlu diperkuat ketika kasus berada di luar kapasitas penanganan sekolah,” ujarnya.

Sekitar 80 persen lulusan psikologi bekerja di perusahaan
Guru Besar Bidang Psikologi Industri dan Organisasi Universitas Airlangga, Prof. Seger Handoyo, Psikolog, menyoroti kebutuhan psikolog di dunia kerja.
Ia menyebut berdasarkan tracer study S1, sekitar 80 persen lulusan psikologi bekerja di perusahaan.

Menurut Seger, perusahaan tidak hanya membutuhkan lulusan psikologi untuk urusan rekrutmen, seleksi dan promosi.
Psikolog juga dibutuhkan untuk menghadapi persoalan kesehatan mental di tempat kerja.

“Persoalan kesehatan mental tidak semata-mata menjadi ranah psikologi klinis. Psikolog umum juga memiliki peran penting dalam pencegahan dan penanganannya,” kata Seger.
Ia mendorong kolaborasi antara institusi pendidikan, profesi dan pengguna lulusan, termasuk perusahaan.

Kolaborasi tersebut antara lain melalui penetapan standar layanan psikologi yang mencakup proses, kompetensi serta sarana dan prasarana.

Seger menambahkan psikolog umum dapat bekerja di berbagai bidang. Namun, mereka tetap dituntut untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan.

Talk show yang dimoderatori Dr. Dra. Artiawati, M.App.Psych., Ketua Program Studi Doktor Psikologi Universitas Surabaya, tersebut menjadi forum untuk melihat kembali kebutuhan psikolog di berbagai sektor.

Dari puskesmas hingga militer, dari sekolah hingga perusahaan, kebutuhan terhadap kompetensi psikologi terus berkembang seiring kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat.(Nk)