*TNI dan Polri

Dosen FISIP UHT Terima Penghargaan Pelestari Kebaya Indonesia dari Bunda Milenial Surabaya

72
×

Dosen FISIP UHT Terima Penghargaan Pelestari Kebaya Indonesia dari Bunda Milenial Surabaya

Sebarkan artikel ini

Surabaya — Liputan7terkini – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hang Tuah (FISIP UHT), Deasy Arieffiani, S.IP., M.Si., menerima penghargaan sebagai Bunda Pelestari Kebaya Indonesia dari komunitas Bunda Milenial Surabaya

.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia yang digelar di Atrium Utama Royal Plaza Surabaya, Jumat (14/8/2026).
Ketua Panitia, Sri Kartika Sari Antariksa, S.E., S.H., M.M., mengatakan penghargaan diberikan setelah Bunda Milenial Surabaya melakukan penilaian selama satu tahun terhadap perempuan yang aktif melakukan pengabdian di berbagai bidang, khususnya dalam pelestarian budaya dan kebaya Nusantara.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Bunda Milenial Surabaya, Dr. Roro Dyah Eko Setyowati, S.Sos., S.E., M.M.
Selain penghargaan tersebut, Bunda Milenial Surabaya juga memberikan apresiasi dalam kategori Pelestari Wastra Eco Print kepada Bunda Nawang Wulan, penggiat UMKM asal Semolowaru, Surabaya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan Lomba Bunda dan Putri Berkebaya, yang bertujuan memperkuat upaya pelestarian kebaya Indonesia dan busana adat Nusantara. Acara dilanjutkan dengan talk show bertema “Peran Perempuan Indonesia Mengisi Kemerdekaan”.

Talk show menghadirkan sejumlah tokoh perempuan, yakni Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. AVS Suhardiningsih, S.Kp., M.Kes., Dr. Emeralda Ayu Kusuma, S.Sos., M.Si., dan Dr. Roro Dyah Eko Setyowati, S.Sos., S.E., M.M. Diskusi dipandu moderator Dian Ananta Pertiwi, S.M., M.M.
Kegiatan tersebut diikuti dosen, organisasi perempuan, pelaku UMKM, PKK, mahasiswa, ibu-ibu Fatayat Rebana hingga komunitas pelaku seni di Surabaya dan sekitarnya.

Dalam diskusi, Roro Dyah menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi perempuan dalam mengisi kemerdekaan. Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi salah satu faktor penting bagi perempuan untuk berkembang dan menjalankan perannya di berbagai bidang.

Sementara itu, Ave Suhardiningsih menyoroti pentingnya periode 1.000 hari pertama kehidupan sebagai fondasi bagi tumbuh kembang anak.
“Apabila para ibu bisa melakukan ini dengan baik, maka penerus bangsa yang akan berkontribusi dan mengawaki Indonesia Emas akan sangat bagus,” ujarnya.

Adapun Emeralda Ayu Kusuma menyoroti peran perempuan di tengah perkembangan era digital. Ia mendorong perempuan untuk mampu memanfaatkan platform digital secara bijak guna meningkatkan kapasitas dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Deasy mengapresiasi konsistensi Bunda Milenial Surabaya dalam menjalankan aksi sosial dan pelestarian budaya Nusantara. Menurutnya, gerakan Bunda dan Putri Berkebaya tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun karakter generasi muda.
“Gerakan Bunda dan Putri Berkebaya menjadi identitas kepribadian perempuan Indonesia yang secara filosofis berkontribusi dalam membangun karakter generasi muda kekinian untuk terus aktif menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia,” kata Deasy.

Tak hanya menerima penghargaan, Deasy bersama Bunda Nawang Wulan juga dipercaya menjadi juri dalam Lomba Bunda dan Putri Berkebaya yang didukung Royal Plaza Surabaya, Yakult, dan Viva.
Dalam perlombaan tersebut terdapat empat kategori. Kategori Busana Daerah dimenangkan Casilda Faeyza dari Sidoarjo sebagai juara pertama, disusul Jausa Alsyifara dan Meiza Fairus.

Kategori Kebaya Indonesia dimenangkan Bunda Christie Gracelia dari LIRA Surabaya. Sementara kategori Bunda & Putri Berkebaya dimenangkan Bunda Ria dari Ananda Surabaya.

Adapun kategori Kebaya Indonesia Favorit diraih Bunda Mongi, Bunda Susan, Bunda Quratu dan Bunda Kanti dari Surabaya.
Penghargaan kepada Deasy sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap keterlibatan akademisi dalam pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan perempuan di tengah masyarakat.