Uncategorized

Fakultas Kehutanan UGM Kukuhkan 3 Guru Besar Baru

2
×

Fakultas Kehutanan UGM Kukuhkan 3 Guru Besar Baru

Sebarkan artikel ini

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada kembali melengkapi runtutan guru besar aktifnya. Ketiga Dosen Fakultas  Kehutanan UGM tersebut dikukuhkan menjadi guru besar pada Kamis (25/6) di Balai Senat UGM. Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Denny Irawati, S.Hut., M.Si., Ph.D., Prof. Dr.rer.nat. Ir. Sena Adi Subrata, S.Hut., M.Sc., IPU., dan Prof. Dr. Ir. Sapto Indrioko, S.Hut., MP, IPU.

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Baiquni, M.A., menyampaikan bahwa ketiga guru besar yang telah dikukuhkan merupakan 544 guru besar aktif di UGM. Sementara di lingkungan Fakultas Kehutanan UGM, ketiganya masuk ke dalam 19 guru besar aktif dari 33 guru besar yang dimiliki fakultas tersebut.

Dikukuhkan menjadi guru besar pada bidang Ilmu Ekologi Satwa Liar, Prof. Dr. Ir. Sena Adi Subrata, S.Hut., M.Sc., IPU., menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Kontribusi Teknologi Genomik Untuk Konservasi Satwa Liar dan Ekosistem Hutan” Dalam pidatonya, ia menyoroti pengelolaan keragaman spesies satwa liar di Indonesia yang belum optimal. Karenanya, ia menyampaikan pentingnya pengaplikasian teknologi genomik sebagai langkah konservasi satwa liar serta ekosistem hutan yang dewasa ini terancam mengalami kepunahan.

Riset yang Sena dan tim jalankan selama lima tahun terakhir mengungkap keunggulan teknologi genomik yang mampu mendeteksi variasi genetik dalam suatu populasi dengan lebih detail. Teknologi ini juga menyediakan bukti inbreeding (perkawinan sedarah) dalam mengelola spesies yang memiliki populasi kecil. Selain itu, teknologi genomik juga mampu mengidentifikasi informasi komposisi makhuk hidup menggunakan potongan DNA yang ada di alam.

Namun demikian, riset yang dilakoni tidak lepas dari berbagai macam tantangan dalam mengumpulkan sampel. Iklim tropis Indonesia yang hangat dan lembab menyebabkan sampel cepat rusak dan untaian DNA patah. Sehingga diperlukan pengambilan sampel dengan memanfaatkan darah dan jaringan satwa yang telah mati sebagai gold standard. Selain itu, pengambilan sampel juga dibantu dengan teknologi high-throughput sequencing yang memberikan puluhan juta bacaan DNA. “Semua ini membutuhkan pemahaman ekologi satwa liar, pendalaman genetika populasi klasik, penguasaan teknik molekuler, dan kecakapan pengolahan big data. Tentunya perlu kolaborasi lintas bidang untuk mempercepat proses risetnya,” jelasnya.

Teknologi genomik yang diterapkan dalam riset pada akhirnya membuahkan hasil dalam mengungkap pengetahuan baru mengenai satwa liar asli Indonesia, diantaranya strategi perlindungan populasi dan habitat burung Maleo, mengetahui spesies pakan macan tutul di pulau Jawa, mengungkap peran ekologis tikus hutan, hingga mengidentifikasi keragaman satwa liar di hutan Kalimantan. Melalui berbagai temuan ini, dapat mendukung pembaruan informasi strategis dalam mengelola populasi dan ekosistem satwa liar. “Satwa liar adalah subjek yang memiliki sejarah evolusi yang luar biasa. Dengan pemanfaatan teknologi genomik, membuka jendela ke dalam sejarah evolusi itu dan dengan hormat kita perlu menjaga kelestariannya,” pungkas Sena.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Sapto Indrioko, S.Hut., MP, IPU., dikukuhkan menjadi guru besar pada bidang Pemuliaan Pohon. Melalui pidatonya yang berjudul “Pelestarian, Pemanfaatan, dan Pengambilan Sumber Daya Genetik dalam Mendukung Pembangunan Hutan Tropika Berkelanjutan di Indonesia”, ia menyoroti sumber daya genetik dalam mendukung keragaman spesies flora dan fauna hutan tropika di Indonesia.

Ia menuturkan pentingnya keragaman genetik dalam mempertahankan reproduksi dan kelangsungan hidup dalam jangka pendek, dan memfasilitasi evolusi adaptif di jangka panjang. Dengan begitu, organisme yang ada dapat terhindar dari beragam risiko, seperti perkawinan sedarah, perubahan kondisi lingkungan, hingga serangan hama dan perubahan iklim.

Dalam sebaran populasi spesies, ia menyebut tidak hanya dapat terjadi secara alami, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia. Manusia dapat berperan secara positif melalui pemapanan sumber benih maupun rehabilitasi hutan secara kondusif, sehingga diharapkan dapat mendukung keragaman genetik populasi. Apabila keragaman genetik populasi rendah, hal ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap serangan patogen yang pada akhirnya dapat mengancam kelestarian sumber daya hutan. Dalam hal ini, ia menuturkan perlu adanya upaya pemerintah dalam mendukung pelestarian sumber daya genetik. “Kerja sama berbagai pihak diperlukan dalam mendukung upaya pelestarian, pemanfaatan, dan pengembangan sumber daya alam secara bijaksana,” tegasnya.

Lebih lanjut, keragaman genetik juga memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas hutan dengan cara menerapkan pemuliaan pohon. Dengan keragaman genetik yang baik, dapat dilakukan rekombinasi genetik sehingga menghasilkan individu yang lebih produktif. Salah satu contoh yang dapat diterapkan yakni dengan meningkatkan produktivitas hutan tropika humida spesies Dipterokarpa yang memiliki sebaran alami di Kalimantan. “Meskipun Dipterokarpa merupakan spesies alami Kalimantan, masih terdapat tantangan adaptasi, kecepatan pertumbuhan, dan karakteristik. Perlu upaya untuk mendapatkan materi genetik yang lebih tepat sesuai dengan tujuan penanaman,” ujarnya.

Pidato dilanjutkan oleh pemaparan dari Prof. Denny Irawati, S.Hut., M.Si., Ph.D., yang dikukuhkan menjadi guru besar pada bidang Ilmu Konversi Biomaterial. Pada pidato pengukuhannya yang berjudul “Konversi Biomaterial Ramah Lingkungan dalam Mendukung Transisi Energi dan Ekonomi Sirkular Masyarakat”, ia menyoroti konversi biomaterial pada kebutuhan produk penghasil energi yang menjadi komponen penting bagi pembangunan sosial dan ekonomi di masyarakat.

Ia menyebut bahwa Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan yang melimpah. Posisi geografis Indonesia juga mendukung hasil produksi biomassa yang melimpah di sepanjang tahun. Akan tetapi, pemanfaatannya baru mencapai 7 persen dari total potensi yang ada, yakni 23 ribu MW. Padahal, biomassa sebagai sumber energi terbarukan memiliki segudang keunggulan, yakni ketersediaannya tidak tergantung musim, lebih murah, serta berbentuk benda yang dapat disesuaikan kegunaannya. “Komponen berharga pada biomassa akan menentukan bentuk produk dan proses yang sesuai,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga memperkenalkan konversi biorefinery yang dapat dikategorikan menurut pada bahan baku dan fleksibilitas dalam prosesnya. Berdasar bahan baku, pada biorefinery berbasis gula yang difermentasi menjadi biofuel dan bahan kimia bernilai tinggi. Sedangkan pada proses termokimia, proses transformasi biomassa menjadi energi dilakukan melalui proses perlakuan panas pada suhu tertentu. “Biorefinery diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar saat ini dan di masa yang akan datang, sehingga produksinya dapat berlanjut dan dapat menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Dengan ketersediaan biomassa yang sangat melimpah di Indonesia, ia menuturkan konversi biomassa menjadi salah satu langkah strategis yang mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya hayati dengan prinsip keberlanjutan. Perlu dukungan dari berbagai pihak dalam mendukung implementasi konversi biomassa secara luas dan berkelanjutan. “Dengan pendekatan terarah, konversi biomassa tidak hanya menjadi alternatif penyediaan energi, tetapi juga menjadi pondasi dalam membangun sistem energi yang mandiri, berkeadilan, dan berbasis potensi lokal di Indonesia,” harapnya.

Penulis : Cyntia Noviana